SUMBER KOMPAS.COM— Mbah Sumilan (72), warga Desa Tondowulan, Kecamatan Ploso, Jombang, agaknya dipaksa melakukan pekerjaan di luar kemampuannya. Dengan sisa tenaganya yang sudah rapuh, dia harus mengayuh sepeda tuanya dari Jombang hingga Kediri. Sepanjang jalan, pria lansia ini menjual tikar pandan.
Tikar hasil keterampilan tangan kerabatnya ini dijual dari kampung ke kampung. Dengan suara yang dipaksakan, Mbah Sumilan berteriak menawarkan barang dagangannya. “So.. kloso (tikar… tikar),” teriaknya setiap masuk kampung.
Sumilan memilih kampung-kampung yang relatif belum tersentuh modernisasi. Atau dengan mengandalkan insting, dia masuk ke sembarang tempat yang masih menerima dagangannya yang sudah kuno itu.
Zaman seperti sekarang sudah banyak tikar pabrik yang bentuknya lebih menggoda, seperti tikar dari plastik yang jika rusak mengotori alam. “Buat apa tikar pandan yang sulit dilipat,” pikir orang sekarang.
Saat ditemui, kakek bercucu empat tersebut mengaku sudah sejak zaman penjajah berjualan tikar. “Dulu harganya masih tiga rupiah. Saudara yang membuat, saya bagian ngiderno (menjajakan),” ujar Sumilan.
Di daerah kelahirannya di Ploso, banyak warga memiliki keahlian menganyam daun pandan menjadi lembaran tikar. Satu lembar tikar membutuhkan waktu pengerjaan hingga tiga hari. Selain pandan, mendong juga bisa disulap jadi tikar yang hangat.
Setiap tikar dibuat sesuai ukuran dipan atau tempat tidur. Ada yang ukuran sedang dan besar. Sejak dulu, Sumilan berjualan di sekitar Jombang dan Kediri. “Sekarang jarak saya batasi. Kediri cukup ke Pare sampai Tunglur, Purwoasri, dan Plemahan,” kata Sumilan sambil mengisap rokok papirnya dalam-dalam.
Dalam seminggu, jumlah 12 tikar yang dibawanya belum tentu laku. “Biasanya saya titipkan ke pedagang di pasar. Saya tidak mau ngoyo. Yang penting berusaha. Rezeki Tuhan yang memberi,” kata Sumilan yang belum mau pensiun dari berjualan tikar pandan kebanggaannya.
Sumilan tak pernah memusingkan semakin banyaknya tikar pabrik. Namun, semakin sulitnya bahan baku membuat Mbah Sumilan dan kerabatnya menyesuaikan harga. Berangsur-angsur harganya naik, dari sebelumnya Rp 17.000 sekarang Rp 25.000.
(Faiq Nuraini)/KOMPAS.com


April 5, 2011 pukul 11:33 am
Bakul kloso nang pasar tunglur iki Reek,…..sak iki opo yoo ijek enek yoo,..???
April 6, 2011 pukul 9:28 am
Salute buat Mbah’nya..
Jadi malu nih di Surabaya masih dapet Subsidi..
Yosshhh., kudhu lebih semangat ngirim Surat Lamaran Freelance nih..
Hahaha..
April 11, 2011 pukul 7:19 am
jian josss si mbah iki….meskipun sudah tidak muda,beliau tetap gigih dalam bekerja dan tetap bisa mempertahankan karyanya,walaupun bayak bermunculan produk modern.
memang betul,sebuah karya bisa tercipta bagi siapa saja,tapi tidak banyak orang yang bisa mempertahankannya…
ayo broth tambah lgi kisah-kisah inspiratifnya,semoga kedepanya bisa menginspirasi para kaula muda khususnya yang ada dikampung kita…
April 11, 2011 pukul 11:52 am
Lhaa yoo ngunu lhoo broth,….tetep cmangat ae yaa,..masio Sby panas,..kwkaka.a.a.a….
April 11, 2011 pukul 11:55 am
Bang kamil,….insyaALLAH..pendongane ae ben iso update terus,…nek sampyan ndwe tulisan tentang deso tercinta kirim nang email ku ae,..opo mneh nek enk poto ne,..jelas + yahud bin israil mz broth,..hwe,ee..e…
April 12, 2011 pukul 3:36 am
sipp broth,kapan-kapan nek enk waktu luang tak hunting berita nek tunglur.soalnya masih banyak potensi yang tersembunyi yang ada dikampung tercinta ini.
April 12, 2011 pukul 12:09 pm
ak pingin gae artikel tentang warung e mbk nik sekeluarga e,…tpi ora ndwe poto”ne aku,….hwe,ee….
oke broth,…tak tunggu beritane,….tentang opo ae yo manut,..tpi nek pas drimu ora repot ae,…kirim nang email ku yaa a.goest@yahoo.co.id
Oktober 24, 2011 pukul 3:37 pm
lek enek seng weruh alamate mbah sumilan rek,, ki lg butuh pandan… sopo ngerti iso berbagi..